Ilustrasi
ketika mayat gali yang baru said dihabisi dimasukkan karung lalu di
buang ke sungai atau semak-semak belukar. Jarang sekali mayat "gali"
sengaja dikubur tapi sengaja dibuang di sembarang agar bisa ditemukan
penduduksebagai shock therapy.
Pada tahun 1980-an suasana kota Yogyakarta tiba-tiba berubah menjadi
mencekam. Para preman yang selama dikenal sebagai gabungan anak liar
(gali) dan menguasai berbagai wilayah operasi tiba-tiba diburu tim
Operasi Pemberantasan Kejahatan (OM) yang kemudiart dikenal sebagai penembak misterius (Petrus).
Ketika melakukan aksinya tak jarang suara letusan senjata para penembak
misterius terdengar oleh masyarakat sehingga suasana tambah mencekam. Mayat
para korban penembakan atau pembunuhan misterius itu urnurnnya
mengalami luka di kepala serta leher dan dibuang di lokasi yang mudah
ditemukan penduduk. Ketika ditemukan, mayat biasanya langsung dikerumuni
penduduk dan menjadi head line media massa yang terbit di Yogyakarta.