About

Showing posts with label JEFF THE KILLER FINAL: TRIUMPH OF EVIL. Show all posts
Showing posts with label JEFF THE KILLER FINAL: TRIUMPH OF EVIL. Show all posts

JEFF THE KILLER FINAL: TRIUMPH OF EVIL [PART7][END]

“Jeff The Killer?” Jenna tak percaya sosok yang dilihatnya di depan matanya itu benar-benar pembunuh psikopat legendaris itu.
Tubuhnya tinggi besar, menggunakan jumper putih berlumuran darah. Kegelapan menelan sebagian wajahnya, namun ia bisa melihat mata tanpa kelopaknya serta seringai kejam yang langsung membangkitkan rasa takut siapapun yang melihatnya. Semua topeng dan gambar creepypasta itu salah! Wajah Jeff yang sesungguhnya berkali-kali lipat lebih mengerikan ketimbang yang dapat dibayangkan orang.
“Hai Sayang,” bisik Jeff dengan suara berat yang dapat meruntuhkan nyali siapun yang mendengarnya. Hanya kejahatan murni yang terdengar dalam suaranya, tanpa ternoda sedikitpun kebaikan. “Aku ingat kau. Kita bertemu di malam Halloween bertahun-tahun lalu. Kau suka wajahmu sekarang? Aku membuatmu lebih cantik, bukan?”
“Keparat! Kau takkan lolos kali ini!” Jane menerjangkan pisau yang dipegangnya ke tubuh Jeff. Mereka berdua bergulat, melupakan kehadiran ketiga mangsa mereka.
“Cepat! Mereka sedang sibuk. Kalian harus segera pergi dari sini!” Liu menunjuk ke pintu keluar yang terbuka.
“Kenapa kau tak ikut dengan kami?” pinta Jenna.
“Tidak bisa! Aku harus menghentikan ini semua. Aku tak bisa membiarkan ada orang lain yang mati karena perbuatan Jeff. Sekarang atau tidak sama sekali!”
“Kau takkan bisa menghadapi mereka!” seru Theo, “Kau akan mati!”
“Tidakkah kalian mengerti? Siapapun di antara mereka berdua yang menang tidaklah masalah. Kejahatan tetap akan menang! Aku takkan membiarkan hal itu terjadi! Sekarang, cepat kalian pergi! Pergi!”
Theo segera menggandeng Jenna dan menariknya ke arah pintu keluar.
“Tidak, Theo!” Jenna meronta, “Kita tak bisa meninggalkannya! Dia tadi sudah menyelamatkan nyawamu!”
“Ikutlah denganku. Aku punya rencana!” Theo menatap Jenna dengan mata penuh keyakinan. Jenna hanya bisa mempercayainya saat ini.
Liu lega melihat kedua remaja itu kini telah meninggalkan asylum dengan selamat. Kini ia menatap kedua sosok pembunuh berantai yang sedang bertempur itu. Jeff memang kuat, namun Jane lebih lihai. Siapapun yang menang sama saja, pikir Liu. Tetap saja akan ada banyak orang terbunuh jika salah satu dari mereka masih hidup.
Namun Liu bingung, siapa yang akan dia bantu? Apa ia akan di pihak Jane. Mereka toh punya misi yang sama untuk menghentikan Jeff. Atau dia berada di pihak Jeff? Ia tetap adalah saudaranya. Ia tak bisa membiarkan Jane membunuhnya.
Liu sedang menghadapi dilema sekarang. Namun ia tahu, ia harus berbuat sesuatu.
“Pistol itu” pikiran itu segera terlintas di benak Liu. Ia melihat ke arah dimana pistol itu terakhir terjatuh. “Ya, di sana! Aku melihatnya!”
Liu segera mengambil pistol itu dan mengacungkannya ke arah mereka. Tak seorangpun di antara mereka berdua yang menyadarinya.
“Siapa yang akan aku tembak?” Liu membidik Jane, namun ia merasa tak yakin. Jeff lebih berbahaya. Maka ia mengarahkan moncongnya ke arah Jeff.
“Siapa? Siapa yang akan aku tembak?”
Liu memejamkan matanya sejenak. Akhirnya ia memutuskan. Ya, ia sudah memutuskan.
Ia pun membuka mata dan menembakkan pistolnya.
“DOR!!!”

JEFF THE KILLER FINAL: TRIUMPH OF EVIL [PART6]

 
“Lihat kan, aku benar! Pintu keluarnya ada di sini.” kata pemuda itu sambil tersenyum.
“Kau sepertinya mengenal dengan baik asylum ini. Kalau begitu mari kita jemput Jenna dan Christine!”
Namun Theo justru heran ketika melihat pemuda di depannya justru mengunci pintu itu dari dalam.
“A .... apa yang kau lakukan?”
“Tentu saja aku paham tempat ini, Theo.” ia menyeringai, “Aku pernah tinggal di sini!”

JEFF THE KILLER FINAL: THE TRIUMPH OF EVIL [PART5]

Jenna masih berlari bersama Theo menyusuri lorong.
“Theo ... berhenti. Kumohon ... aku lelah.”
Theo akhirnya berhenti, namun masih memohon pada gadis itu, “Kita harus terus berlari. Pembunuh itu ada di belakang kita!”
“Theo, apa kau melihat siapa yang membunuh Brian?”
“Tidak. Saat itu gelap bukan?”
“Ba ... bagaimana dengan yang lain?”
“Ah, persetan dengan mereka. Jenna ... dengarlah! Kumohon maafkan aku.”
Jenna menatapnya dengan wajah sendu, “Tak apa-apa Theo. Aku tahu ini semua salahku. Aku terlalu dibutakan oleh perasaanku pada Leo sehingga .... sehingga aku melupakanmu.”
Theo menatapnya, “Tidak! Ini bukan salah siapa-siapa. Dengar, kita akan keluar dengan selamat dari sini, mengerti!”
“Apa ... apa kau pikir itu Jeff?”
“Aku sama sekali tak percaya dengan segala omong kosong tentang Jeff ini. Jeff sudah mati, titik! Mungkin saja pelakunya Leo atau Mark.”
“Kenapa mereka melakukan ini? Kenapa mereka membunuh Brian dan Jake?”
“Entahlah! Kau tahu kan segila apa mereka? Kita benar-benar harus pergi sekarang, Jen!
Tiba-tiba mereka mendengar suara gemeretak di dinding. Seolah-olah sesuatu yang sangat banyak akan melewati mereka.
“Apa ... apa ini?”
Di tengah kegelapan lorong di depan mereka tampa ratusan mata merah tengah mengintai.
Jenna menggenggam tangan Theo, “Theo ... itu ...”
“Lari Jen .... LARI!!!”
Dan mereka segera berlari secepat mungkin ketika ribuan tikus menyerbu mereka dari lantai.

JEFF THE KILLER FINAL: THE TRIUMPH OF EVIL [PART4]

 
Theo? Theo yang meneleponnya malam itu? Tidak, itu jelas bukan suara Theo! Namun bagaimana si pembunuh bisa menelepon menggunakan telepon genggamnya?
Ia masih ingin mempercayai sahabat lamanya itu, namun kini tak ada seorangpun yang bisa ia percayai. Jessica, Mark, Brian, Theo, bahkan Leo ... tak ada jaminan bahwa pelakunya bukan seseorang di antara mereka.
Ia masih mencoba memanggil nomor Theo dan tiba-tiba ia mendengar suara dari kejauhan. Suara ringtone.
Ini ringtone milik Theo, sebuah soundtrack anime, Jenna sangat mengenalinya.
Jenna segera berusaha mencari asal suara itu.
“Theo! Theo!” panggilnya.
Namun ia terperanjat begitu melihat asal suara tersebut.
Sebuah sumur.
“Oh tidak! Kumohon ... jangan Theo ...”
Jenna memberanikan diri mendekati dan melongok ke dalam sumur itu. Suara ringtone itu jelas sekali bergema dari dalam sumur tua tersebut.
Jenna menjerit ketika melihat punggung Theo tampak mengapung di dalam sumur tersebut.

JEFF THE KILLER FINAL: THE TRIUMPH OF EVIL [PART3]

 
“Maksudmu kini ada yang meneror kita dengan meniru adegan2 film terkenal?” tanya Theo tak percaya. “Tadi malam Jenna dan sekarang Jessica?”
“Kita harus melapor pada polisi! Jessica ...”
“Bagaimanapun juga Jessica sudah meninggal,” Mark akhirnya angkat suara, “Apapun yang kita lakukan takkan bisa membangkitkannya kembali.”
Jenna menatap Mark dengan geram, “Apa kau tak peduli sedikitpun pada nasib Jessica?”
“Justru karena aku peduli maka aku mengatakan hal itu!” Mark membela diri, “Lebih baik Jessica meninggal sebagai pahlawan di mata warga kota dan orang tuanya ketimbang ia selamanya dikenang sebagai pembohong apabila kita mengatakan yang sejujurnya pada polisi!”
“Tega-teganya kau mengatakan itu!” jerit Jenna, “Sejak awal ini semua kesalahanmu!”
“Sudahlah hentikan!” Leo menengahi mereka, “Mark benar. Lapor ke polisi takkan memecahkan masalah ini. Apa kau pikir mereka akan melindungi kita setelah kita berbohong seperti ini?”
“Ya,” kata Brian, “Mereka akan menganggap kita berbohong juga dan takkan mempercayai kita.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” air mata mulai menetes di pipi Jenna.
“Kita semua akan pergi ke mansionku.” kata Mark, “Ada banyak senjata di sana. Kita bakal menghabisi Jeff atau siapapun yang mencoba macam-macam dengan kita.”

JEFF THE KILLER FINAL: THE TRIUMPH OF EVIL [PART2]

 
Mobil polisi itu berhenti di dekat mereka. Suara raungan sirinenya seakan membekukan mereka, seperti seekor kijang yang mendengar auman singa yang akan memangsanya.
Seorang polisi turun dari mobil dan berseru, “SIAPA KALIAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI???”
“Jeff The Killer!” tiba-tiba Mark berseru, “Jeff The Killer pelakunya!”
“Apa?” bisik Jenna tak percaya.
“Kami mendengar teriakan minta tolong dari pria ini, jadi kami segera ke sini untuk menolongnya. Namun ...”
“Ya, Jeff The Killer membunuhnya. Kami datang terlambat!” seru Leo tiba-tiba, melanjutkan kebohongan Mark, “Untung saja Anda segera datang, Pak Polisi! Jika tidak, ia juga pasti akan membunuh kami.”
“Dimana dia sekarang!” polisi itu segera mengambil pistol dari sabuknya begitu mendengar nama pembunuh berantai paling ditakuti itu.
“Jeff sudah kabur!” Jessica berseru, “Ia menghilang ke dalam hutan.”
“Kalian masuklah ke mobil! Aku akan memanggil bantuan!” polisi itu tampak dengan panik menghubungi rekannya dengan radionya.
Jenna melihat seutas senyuman di wajah Mark.

JEFF THE KILLER FINAL: TRIUMPH OF EVIL [PART 1]

 
Jenna melangkahkan kakinya dengan enggan di kegelapan malam. Hari sudah terlalu malam baginya untuk berjalan sendirian di tengah hutan seperti ini. Ranting-ranting kering di atasnya tampak seperti jari-jari kurus yang seakan-akan hendak mencengkeramnya.
Dia hampir melompat ketakutan mendengar suara berisik pelan di belakangnya. Apa itu? Apa itu suara binatang liar? Apa itu suara langkah kaki? Apa ada yang sedang mengikutinya?
Gadis itu memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya. Ia bahkan mulai berlari, namun kakinya tersandung akar pohon yang mencuat dari dalam tanah. Iapun jatuh terjerembap ke tanah.
Wajahnya tak sampai menghantam tanah, namun ia mendengar suara itu makin mendekat. Ia tak sempat membersihkan daun-daun kering yang menempel di rambutnya dan segera berdiri, bersiap untuk kembali berlari. Namun sebelum ia sempat melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan hitam menutupi jalan di depannya.
Tentakel-tentakel keluar dari sosok hitam yang sangat tinggi itu.
“KYAAAAAAA!!!!”