About

JEFF THE KILLER FINAL: THE TRIUMPH OF EVIL [PART2]

 
Mobil polisi itu berhenti di dekat mereka. Suara raungan sirinenya seakan membekukan mereka, seperti seekor kijang yang mendengar auman singa yang akan memangsanya.
Seorang polisi turun dari mobil dan berseru, “SIAPA KALIAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI???”
“Jeff The Killer!” tiba-tiba Mark berseru, “Jeff The Killer pelakunya!”
“Apa?” bisik Jenna tak percaya.
“Kami mendengar teriakan minta tolong dari pria ini, jadi kami segera ke sini untuk menolongnya. Namun ...”
“Ya, Jeff The Killer membunuhnya. Kami datang terlambat!” seru Leo tiba-tiba, melanjutkan kebohongan Mark, “Untung saja Anda segera datang, Pak Polisi! Jika tidak, ia juga pasti akan membunuh kami.”
“Dimana dia sekarang!” polisi itu segera mengambil pistol dari sabuknya begitu mendengar nama pembunuh berantai paling ditakuti itu.
“Jeff sudah kabur!” Jessica berseru, “Ia menghilang ke dalam hutan.”
“Kalian masuklah ke mobil! Aku akan memanggil bantuan!” polisi itu tampak dengan panik menghubungi rekannya dengan radionya.
Jenna melihat seutas senyuman di wajah Mark.

***
 
Jenna merasa muak dengan semua kebohongan ini. Namun kini mereka berjalan ke atas podium. Murid-murid dan guru dari New Davenport High berdiri menyambut mereka sambil bertepuk tangan.
Sang kepala sekolah memulai pidatonya, “Kota kita selama bertahun-tahun dicekam oleh ketakutan. Ketakutan akan Jeff The Killer, pembunuh sadistik yang selalu mengincar nyawa orang-orang tak berdosa. Namun sekarang ada harapan. Mereka berenam yang berdiri di depan kita semua adalah pemuda dan pemudi yang dengan gagah menghadapi sang pembunuh berantai itu dan berhasil selamat. Untuk itu, mereka layak disebut sebagai pahlawan kota ini!”
Tepuk tangan kembali membahana.
“Kau dengar itu,” bisik Leo yang berdiri di samping Jenna, “Mereka menyebut kita pahlawan!”
“Tapi ini semua kebohongan, Leo!” air mata mulai menitik di wajah jenna, “Aku tak mau terus-menerus berbohong seperti ini.”
“Lalu kenapa kau tak katakan yang sejujurnya?”
Demi kamu,” Jenna ingin menjawab demikian, namun ia tak ingin begitu saja membiarkan Leo mengetahui semua perasaannya, “Aku melakukannya untukmu. Aku tahu apa yang akan terjadi denganmu apabila semua ini terbongkar. Seluruh impianmu akan hancur. Karena itu aku terus bertahan dengan kebohongan ini. Demi dirimu.”
“Sudahlah, Jenna. Jangan terlalu merasa bersalah. Kau tahu siapa pria yang tewas itu?”
“Siapa memangnya?”
“Kau dengar di berita kan tentang pasien dari rumah sakit jiwa yang kabur?”
“Apa dia ...”
“Ya, kurasa itu dia. Polisi belum mengidentifikasinya karena wajahnya hancur terbakar. Data di rumah sakit jiwa juga sudah musnah seluruhnya jadi kita mungkin takkan tahu. Tapi pasti dia. Kita sudah menyelamatkan banyak jiwa jika itu memang dia. Bayangkan jika orang seperti dia berkeliaran di luar sana.”
Tapi kenyataan itu tetap tak membuat hati Jenna merasa nyaman.
Ia hanya bisa memasang senyum palsu ketika kepala sekolah mengalungkan medali kehormatan ke lehernya.
***
 
“Polisi masih menyelidiki kebakaran yang terjadi di New Davenport Asylum yang menewaskan beberapa staff rumah sakit jiwa dan pasiennya. Kebakaran ini diduga disulut oleh salah seorang pasien yang keberadaannya hingga sekarang belum diketahui. Namun kemungkinan besar pasien tersebut berkaitan dengan mayat yang ditemukan tak jauh dari bekas kediaman penjahat terkenal Jeff The Killer.”
“Berita selanjutnya. Masih terkait dengan berita sebelumnya, New Davenport High menganugerahkan penghargaan kepada siswa-siswa yang berhadapan dengan Jeff The Killer semalam. Walaupun berita ini tentu saja mengguncang publik karena ini menandakan bahwa Jeff The Killer masih berkeliaran di luar sana, ini juga merupakan bukti masih tersisa keberanian di hati para generasi muda kita ...”
Jenna segera mematikan layar televisi di kamarnya dan membuang medali kehormatan yang diperolehnya pagi ini ke dalam keranjang sampah.
Ia merasa tak pantas menerima semua ini.
Mark, ini semua perbuatannya. Mungkin saja ia tahu pria itu belum mati dan menyuruh kami membakarnya agar semua kesalahan bisa ditimpakan kepada kami, pikir Jenna. Secara teknis, ini berarti mereka-lah yang membunuh pria itu, bukan Mark.
Walaupun bisa dibilang idenya sangat brilian, menimpakan semua kesalahan pada Jeff The Killer, namun tetap saja ini berarti mereka mengelak dari semua tanggung jawab yang seharusnya mereka pikul.
Jenna tahu dalam lubuk hatinya semua ini salah, namun ia tak kuasa untuk berbuat apapun. Ia tahu, dengan menelepon polisi dan menceritakan semuanya, ia bisa menghancurkan hidup Leo dan teman-temannya. Bahkan mungkin juga kehidupannya.
Ia benar-benar tak bisa melakukan ini semua.
“Jenna, ada telepon untukmu Sayang!” terdengar suara ibunya dari luar kamar. “Dari tetangga sebelah, mereka bertanya apa kau jadi mengasuh Berty nanti malam.”
“Oh ya, katakan saja aku jadi, Ma!” seru Jenna. Ia hampir saja lupa bahwa ia harus menjadi baby sitter anak tetangga mereka nanti malam. Jenna justru merasa senang. Dengan ini ia bisa melupakan semua kegalauannya.
Jenna menoleh ke luar jendela. Sesosok bayangan dengan cepat menghilang ke balik pepohonan. Aneh, sepertinya tadi ia melihat seseorang di luar sana.
Apa seseorang sedang mengawasinya?
***
 
Seorang pria masuk ke dalam kedai kopi dan bertanya pada wanita yang menjaga kasir.
“Apa Michael ada? Aku kakaknya, ada urusan keluarga sebentar. Ia harus ikut denganku.”
Wanita itu memandang pria bule di hadapannya dengan tatapan ragu, namun tetap saja ia memanggil seorang pemuda yang tengah bekerja mengantarkan pesanan.
“Michael, kakakmu mencarimu!”
Pemuda itu mendongak dan mereka saling bertatapan.
***
 
“Penyamaran yang bagus Marshall,” kata Liu sambil membuka pintu kedai kopi dan keluar, “Mana ada yang percaya kau kakakku?”
“Katakan saja aku diadopsi,” kata agen FBI itu, “Jika aku tak mengaku sebagai keluargamu, mereka takkan membiarkanmu pulang.”
“Ada apa ini?” katanya sambil memasuki mobil tanpa berusaha menarik perhatian. Ia sudah paham semua protokol yang harus ia ikuti. “Apa penyamaranku di kota ini terbongkar?”
“Kau sudah melihat berita hari ini, Liu?” Marshall mengenakan kaca mata hitamnya dan mulai mengendarai mobil. “Jeff sudah kembali.”
“Apa?” bisik Liu tak percaya. Selama setahun ia mengikuti program perlindungan saksi, satu-satunya cara untuk menjamin keselamatannya dari ancaman Jeff The Killer. Setelah kematian Tessa, FBI tahu Jeff The Killer masih hidup. Jika mereka ingin menangkap dan memenjarakan Jeff The Killer, satu-satunya cara hanyalah untuk melindungi satu-satunya saksi mata yang berhasil selamat dari kekejaman Jeff: adiknya.
“Hanya kau satu-satunya saksi hidup yang pernah melihat Jeff. Kami tak bisa mengambil resiko. Kami akan segera memindahkanmu ke tempat yang lebih aman.”
“Jika Jeff masih hidup,” kata Liu dengan tegas, “maka aku harus kembali ke New Davenport!”
“Apa kau gila? Ia akan membunuhmu!”
“Apa kau tak mengerti Marshall? Tak akan ada tempat yang aman! Satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini semua adalah dengan menghadapinya!”
“Kau pikir kau bisa membunuh Jeff The Killer?”
“Aku tidak. Tapi kau bisa!”
Marshall terdiam.
“Kumohon, Marshall! Kita harus kembali ke New Davenport. Jika Jeff sudah kembali, maka akan lebih banyak mayat yang akan bergelimpangan! Kita harus menghentikannya!”
***
 
“Kak Jenna, aku mengantuk.” kata gadis cilik itu sambil menguap.
“Oh, kamu mau tidur sekarang Berty?” tanya Jenna dengan nada keibuan. Wajah lucu gadis ini sudah membuatnya merasa jauh lebih tenang. Sejenak ia bisa melupakan pengalaman mengerikan yang ia alami tadi malam.
“Tapi aku takut, Kak.”
“Taku sama siapa? Sama monster yang ada di bawah tempat tidurmu? Waaaa ....” Jenna segera menggelitiki gadis kecil itu. Berty hanya tertawa.
“Bukan, tapi pada oom bersenyum menakutkan di jendela.”
Secara refleks Jenna menoleh ke arah jendela di belakangnya.
Tak ada apapun di sana.
Jantung Jenna terasa berdegup kencang.
“Berty ... ayo cepat kamu pergi tidur.” Jenna membopong anak itu ke lantai dua dan menidurkannya di kamarnya. Jenna merasa tak yakin, mungkin ia merasa lelah sehingga menjadi sedikit paranoid seperti ini. Ia berjalan menuruni tangga, hendak menelepon orang tua Berty ketika tiba-tiba telepon berdering.
“Halo?” Jenna segera mengangkatnya.
Namun tak ada jawaban. Hanya ada suara dengusan napas.
Jenna merasa ketakutan dan segera menutupnya.
Namun baru beberapa detik Jenna menutup telepon itu, suara deringan kembali terdengar memecah keheningan malam.
Jenna kembali mengangkatnya, berharap itu adalah orang tua Berty yang mengatakan bahwa mereka akan segera pulang.
“Halo? Siapa ini?” terdengar nada ketakutan dalam suara Jenna saat ia mengangkat telepon.
“Hai Jenna.”
“Siapa ini?” Jenna bergidik ngeri mendengar suara berat dan tajam dari pria tersebut, “Leo ... apa itu kau?”
“Jenna ... apa film horor favoritmu?” bisik suara di telepon itu.
“Apa-apaan ini? Apa kau sedang meniru film Scream?” Jenna memaksakan diri untuk tertawa, “Jika iya, maka tiruanmu buruk sekali.”
“Aku bukan peniru, Jenna. Aku bertanya begitu supaya kau bisa mati seperti tokoh dalam film horor favoritmu!”
Jenna menjerit dan segera menutup telepon itu.
“Ya Tuhan, Berty!” Jenna segera teringat pada gadis cilik itu dan segera berlari ke lantai dua. Dengan tergopoh-gopoh ia segera mengangkatnya dari tempat tidur.
“Ada apa Jenna?” bisik gadis cilik itu sambil mengusap-usap matanya.
“Maafkan aku membangunkanmu, Berty ... tapi kita harus segera pergi!” ujar Jenna sambil berusaha setenang mungkin. Ia segera menuruni tangga dan menjerit ketika menyadari apa yang terjadi.
Pintu depan yang tadi tertutup kini terbuka lebar.
Ia segera berlari keluar menuju rumahnya yang hanya berada di seberang jalan.
“Mama! Papa! Tolong ... AAAAAA!!!” tiba-tiba ia menjerit ketika sesosok bayangan hitam menghadangnya.
“Jenna, demi Tuhan! Kenapa berteriak seperti itu? Ini aku!”
Jenna merasa lega begitu menyadari pria yang berada di depannya adalah Leo.
“Leo ... tadi ada yang menerorku ...Dia meneleponku ... Jeff ...”
Sebuah mobil menepi di depan rumah dan seorang wanita keluar dari dalam mobil.
“Jenna, ada apa ini? Mengapa kau membawa Berty keluar malam-malam begini?”
“A ... aku ...” Jenna terbata-bata. Ia tak mampu menjelaskan pada orang tua Berty teror seperti apa yang baru saja ia alami.
“Maaf ... Jenna mengira ada kebakaran, makanya ia panik. Tapi saya yakin semuanya baik-baik saja.” kata Leo berusaha menenangkan keadaan.
Jenna kemudian menyerahkan Berty ke tangan ibunya dan Leo segera menggamit tangannya.
“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”
Leo menyisipkan sebuah kertas ke dalam tangan Jenna. Sebuah kertas note bertuliskan,
“AKU TAHU.”
***
 
Brian menyalakan rekaman yang ada di dalam camcorder-nya di depan teman-temannya.
“Itu ... itu rumah Jessica.” pekik Jenna pelan. “Ke ... kenapa kau merekam rumah Jessica?”
“Bukan aku pelakunya! Camcorder-ku tadi malam hilang dan pagi ini tiba-tiba aku menemukannya di dalam lokerku. Sekarang perhatikan rekaman ini!”
Siapapun yang merekam video ini masuk ke dalam rumah Jessica, kemudian mengendap-endap naik ke tangga dengan perlahan menuju lantai dua. Sepertinya tak seorangpun di dalam rumah yang menyadari sosok ini menyelinap masuk tanpa izin.
“Itu kamar Jessica!” Jenna merasa ketakutan dan tak berani melihat adegan selanjutnya.
Sang perekam membuka kamar Jessica dan terdengar suara deru air yang mengucur dari shower. Orang itu berbelok dan menatap pintu kamar mandi Jessica yang sedikit terbuka. Ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu. Suara berdecit dari pintu itu tenggelam dalam suara kucuran air shower yang cukup deras. Terdengar pula suara Jessica menyanyi dari balik tirai. Sepertinya Jessica sama sekali tak menyadari kehadiran penyusup itu.
Bayangan Jessica yang tengah mandi terlihat dari tirai. Tiba-tiba saja si perekam membuka tirai dengan paksa. Terlihat Jessica menjerit ketika sebilah pisau ditikamkan ke tubuhnya. Darah segera memancar membasahi tirai dan terciprat ke arah kamera, diiringi teriakan teriakan gadis itu.
“Astaga!” jerit Jenna. “A ... apa kau sudah melaporkannya pada polisi?”
“Belum. Aku mencoba masuk ke rumah Jessica namun terkunci. Sepertinya orang tuanya pergi sepanjang pekan ini dan ia sendirian di rumah. Namun apa adegan ini tak mengingatkan kalian pada sesuatu?” tanya Brian.
“Psycho.” bisik Leo, “Film Alfred Hithcock yang terkenal. Ini adalah salah satu adegan dalam film itu.”
“Maksudmu kini ada yang meneror kita dengan meniru adegan2 film terkenal?” seru Theo tak percaya.
 
TO BE CONTINUED