About

JEFF THE KILLER: OUTRAGE [PART5] [END]

 
Pembunuh itu menyeringai, puas melihat wajah terkejut Liu. Selama ini ia berhasil mengecoh semua orang. Tak ada seorangpun yang menduga ia-lah sang pembunuh sebenarnya.
“Ta ... tapi kau sudah mati!”
Pembunuh itu masih tertawa. “Aku tahu! Aku berhasil mengelabui kalian kan, hahahaha ...”
Marisol yang ketakutan akhirnya membuka mulutnya, “Siapa dia, teman2? Siapa dia?”
Marisol menoleh dan terkejut setengah mati,
“Demi Tuhan! PETER!”
Peter, adik Randy.
Peter, kekasih Amy Lee.
Peter, yang diduga sebagai korban pertama pembunuhan2 itu setelah Jeff dinyatakan mati.
Peter, yang darahnya ditemukan di mobil, namun mayatnya tak pernah ditemukan.
Peter. Ia-lah pelakunya.
“Kejutan!” seru Peter sambil membuang topeng keramik itu ke atas lantai.
“Tapi kau ... darah itu ... astaga,” Liu bagai tersambar petir ketika menyadarinya. “Itulah yang ditemukan Adam malam itu. Itu yang coba ia beritahukan kepadaku. Kantung darah! Ia pasti menyadari ada kantung darah O negatif yang hilang dari rumah sakit. Kau mencurinya untuk memalsukan kematianmu!”
“Ah, Adam, si bajingan kecil itu! Aku benar2 tak merencanakan untuk membunuhnya malam itu. Aku jadi terpaksa membunuhnya gara2 ia terlalu ingin tahu. Dan gara2 malam itu, aku jadi merasa kesal dan yah .... mungkin terlalu berlebihan. Aku beraksi terlalu sering malam itu. Tapi sudahlah, yang penting kalian semua berkumpul di sini untuk adegan penutupnya. Nah, sekarang ...”
Ia segera meletakkan kembali bilah pisaunya ke depan leher Marisol. “Untuk adegan klimaksnya, kau harus membuat pilihan sulit Liu. Kau memilih Tessa atau Marisol? Ayoooo, pilih salah satu! Yang kau pilih akan selamat, silakan saja membawanya pulang bersamamu sebagai hadiah. Sedangkan yang kurang beruntung ..... uuuuuh, maaf sekali harus berakhir seperti daging cincang. Hahahaha ....”
“Teman2, jangan pikirkan aku!” seru Marisol sambil menangis, “Kalian pergi saja selamatkan diri kalian!”
“Tidak, jangan terkecoh, Liu!” seru Tessa. “Apapun yang terjadi, ia tetap akan membunuh kita semua di sini! Ia takkan membiarkan siapapun tahu identitas aslinya!”
Perkataan Tessa memang tepat, pikir Liu, ia harus mengulur waktu, sedikit lagi waktu, hingga para polisi datang.
“Tunggu dulu! Sebelum itu, jelaskan dulu mengapa kau melakukannya? Apa motifmu melakukan ini semua!”
“Aaaah, kau ini selalu mengulur2 waktu ya?” Peter kelihatan kesal.
“Kumohon, aku harus tahu. Segala perbuatanmu ini ... benar2 hebat! Kau bahkan bisa mengecoh polisi. Bahkan Jeff The Killer yang aslipun tak bisa melakukannya. Ceritakanlah, please!” Liu menyanjungnya, siapa tahu dengan begitu Peter akan melakukan permintaannya.
Yeah, kurasa tidak ada salahnya.” Peter menarik pisaunya lagi dari depan leher Marisol. “Kau tahu Liu, aku ada di pesta itu.”
“Pesta?”
“Pesta ulang tahun Billy. Pesta dimana Jeff memulai habit buruknya, menikam orang hingga mati. Aku ada di sana, di pesta itu. Aku melihat kakakku mati, Liu, KAKAKKU MATI! Oleh kakakmu! Dan apa yang orang lain lakukan? TAK ADA! Mereka hanya diam saja di sana. Ia mati kehabisan darah di sana dan tak ada yang mau menolongnya. BAHKAN KEITH! Ia berdiri hanya di sana, menyaksikan Jeff terbakar dan membiarkan Randy sekarat!”
“Karena itu .... karena itu kau berusaha membalas dendam kepada kami ?”
“Hahaha dendam?” Peter tertawa bak orang gila, “Oh tidak, kau salah mengerti, Liu! Aku justru senang kakakku mati saat itu. Aku bersyukur. Kau tahu apa yang dia lakukan di rumah saat tak ada anak lain yang bisa di-bully-nya? Ia mem-bully AKU! Dia bahkan pernah menyuruhku makan makanan anjing dan menakutiku hingga aku terkencing2 di celana. Namun semua berakhir ketika Jeff menghabisinya hari itu. Di depan mataku ....”
Peter menghela napas sebentar dan berkata,
“JEFF THE KILLER ADALAH PAHLAWANKU.”
Semua terdiam ketika mendengarnya.
“Sejak itu aku mengaguminya! Aku menganggapnya dewa! Ia tak seperti orang2 lain yang hanya diam menyaksikan orang lain menderita, seperti orang2 yang ada di pesta itu. Ia adalah man of action! Dia bertindak! Ia membela harga dirinya ketika ditindas. Ia benar2 adalah role model bagiku. Selama ini aku ingin menjadi seperti dia! Hingga pada malam dimana ia terbunuh, akhirnya aku melihat kesempatan untuk menjadi seperti dirinya. Itu seperti sebuah wangsit yang turun dari langit. Aku akan menggantikannya! Aku akan menjadi pewaris tahtanya! Dan suatu saat, aku akan dikagumi juga, sama seperti aku selalu mengagumi Jeff The Killer.”
Ia berbicara seolah2 ia sedang berpidato, membuat Liu akhirnya menyadari sesuatu.
“Kau sakit jiwa!”
Tessa akhirnya menyadari mengapa Liu terus mengulur waktu. Ia melihat Keith megendap-endap di belakang Peter. Tampaknya Jeff palsu itu tak menyadari kehadirannya.
Serta-merta, Keith menyergap Peter. Tubuh mereka berdua terbanting di lantai dan mereka berdua bergelut. Pisau secara otomatis terjatuh di lantai dan Liu menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan seluruh ikatan Tessa.
“AAAAAAAAARGH!!!!” terdengar teriakan Keith. Peter telah menyobek luka menganga di betis Keith hingga ia tersungkur kesakitan. Peter segera bangkit dari lantai dan menendang perutnya.
Begitu terlepas Tessa langsung meraih pisau yang ada di lantai. Liu berada di belakangnya, berusaha melepaskan ikatan Marisol.
Peter berjalan mendatangi mereka dengan langkah yang tenang. Langkah seorang psikopat.
“Tessa! Tusuk dia, Tessa! Kau bisa melakukannya, aku yakin!” seru Liu yang masih sibuk membuka ikatan Marisol.
“Ya, aku bisa melakukannya!” bisik Tessa.
Tiba2 gadis itu melakukan hal yang tak seorangpun duga.
Ia berbalik dan menusuk perut Liu bagian samping.
Pemuda itu langsung tersungkur berlumuran darah. Marisol menjerit histeris. Keith juga menatap tak percaya pada plot twist terakhir ini.
Ia tercengang ketika Peter bergabung dengan Tessa yang tengah memegang pisau, seakan-akan mereka telah berteman lama.
Semuanya menjadi clear di pikiran Liu. Peter tak mungkin membunuh di 3 tempat sekaligus dalam satu malam. Ia pasti memiliki partner.
“Kau ...” rintih Liu, “Kau yang membunuh paman dan bibiku ... Bau yang tercium ketika aku masuk ke rumah saat itu, ... itu adalah bau maple dan cendana .... dari rumahmu ....”
Tessa hanya tersenyum.
“Dan Adam ....” Liu kembali teringat, “Ya, Tuhan .... aku memberitahukannya kepadamu .... aku yang menjerumuskannya dalam bahaya ...”
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Liu.” kata Tessa, “Kau benar, aku yang memberitahukan Peter tentang Adam sehingga ia bisa segera membungkamnya. Tapi akan kukatakan satu hal jika ini bisa membuatmu agak tenang dan tidak merasa bersalah ...”
Tessa menunduk dan membisikkan sesuatu ke telinga Liu, “Tanpa ia tahu rahasia kecil kamipun, kami tetap akan menghabisinya. Itu bagian dari rencana kami.”
“Tapi kenapa .... kenapa ....”
“Aduh,” Tessa berbalik menatap Peter, rekannya dalam kejahatan, “Apa aku juga harus menjelaskannya kepadanya?”
“Itu permintaan terakhir orang yang sudah mau mati, Tes. Sudah , lakukan saja!”
Tessa kembali menatapnya dan berjalan menjauh sambil memainkan pisaunya.
“Baiklah akan kuceritakan semuanya. Kau masih ingat bukan ketika kukatakan kakakku ada di luar kota untuk kuliah? Well, semua itu bohong. Kau tahu dimana ia berada dimana sekarang?”
Liu tak menjawab.
“Dia ada di rumah sakit jiwa! Semenjak kejadian di pesta ulang tahunnya itu, Billy menjadi gila! Dan orang tuaku ... mereka memberikan perhatian penuh kepadanya sejak saat itu. Mereka tak lagi peduli lagi pada gadis kecil yang meringkuk ketakutan di bawah tempat tidur! Mereka hanya peduli pada Billy kecil. ‘Traumanya lebih besar ketimbang yang kamu alami, karena ia menyaksikannya langsung’ itu kata mereka! Mereka terus-menerus mencurahkan kasih sayang kepada Billy, sedangkan aku ...” jeritnya, “Aku dilupakan!”
Tessa mencoba menenangkan dirinya kembali, “Lalu aku mulai beranjak besar dan akhirnya aku tahu salah siapa ini semua. Ini salah Jeff dan berandalan2 itu!”
Tessa menuding Liu,
“Keluargamu telah menghancurkan keluargaku. Karena itulah aku menuntut balas. Dan juga kau!”
Tessa balik menuding Keith,
“Gara2 anak manja seperti kau, Jeff menjadi pembunuh dan Billy menjadi trauma. Jadi ini semua juga salahmu. Namun ....”
Tessa kembali memain-mainkan pisaunya bak psikopat. “Kurasa terlalu mudah jika aku langsung membunuh kalian. Jadinya kalian takkan terlalu menderita ... kalian takkan merasakan sakit yang kau rasakan.... Jadi kuputuskan untuk merenggut satu-persatu orang yang kalian sayangi.”
“Amy Lee ... sejak awal kau memang menargetkannya ....” bisik Liu. Akhirnya ia mengerti. “ Lalu paman dan bibiku ...”
“Teman-temanku,” tambah Keith, “Kevin, Marisol ... Semua ini adalah rencanamu.”
“Ya, dan kau pikir kaulah target utamanya?” bisik Tessa, bangga pada dirinya sendiri, “Aku hanya mengatakan pada Craig saat jam istirahat bahwa ia perlu menggunakan barbel agar tubuhnya semakin bagus. Kemudian aku mengajak Gavin berkencan dengan mobil porsche-mu. Ah, laki2 .... benar2 mudah ditebak. Sedangkan untuk Amy Lee, aku mencekokinya dengan narkotik jenis halusinogen yang kemudian membuatnya gila dan bunuh diri. Begitu mudahnya ...”
“Rencana yang brilian bukan? Beruntung sekali dia bertemu denganku ....” Peter memeluk Tessa dari belakang, “Aku mendapatkan identitas baru dan bebas membunuh tanpa seorangpun curiga. Sedangkan Tessa bisa memuaskan hasrat balas dendamnya. Aku menyebutnya ‘win win solution’ hahaha!”
“Nah, sekarang mari kita lakukan permainan, Keith!” Tessa berjalan menghampiri Marisol dan menekankan pisaunya ke leher gadis itu. Marisol langsung menjerit.
“Tidak! Jangan!” seru Keith.
“Ayo pilih, kau ingin melihatnya mati atau kau memilih mati dulu?”
“Bunuh aku dulu!” seru Keith tanpa ragu2.
“Apa?” mata Liu dan Keith bertatapan. Ia tahu Keith hanya mengulur waktu agar Liu memiliki kesempatan untuk membebaskan Marisol. Namun ia tak bisa melakukannya, perutnya terluka parah! Ia menatap Keith dan menggeleng, namun dari sorot matanya, Keith tampak sangat yakin terhadap kemampuan Liu.
Liu takut akan mengecewakannya.
“Baiklah kalau itu pilihanmu.” Tessa berjalan menghampirinya dengan sebilah pisau di tangannya, “Kalau begitu, mari kita mulai!”
“Hei, tunggu! Serius kau akan membunuhnya dengan itu?” seru Peter.
“Kau punya ide yang lebih baik?”
“Mari kita buat kematiannya sebagai sebuah ironi!” Peter mengambil dua buah botol dari pojok ruangan dan menyiramkannya ke tubuh Keith. Dari baunya itu adalah bleach dan alkohol, dua bahan yang juga Keith gunakan dulu untuk membakar tubuh Jeff.
“Keith, tidak!” Liu mendengar jeritan Marisol, “Cepat lari!”
“Bye bye, Keith!” kata Peter sambil menyalakan korek api dan menjatuhkannya ke tubuh Keith.
Di detik terakhir, Keith sempat berpesan,
“Liu, selamatkan Marisol!”
“TIDAAAAAAK!” seru Liu. Namun terlambat. Api sudah berkobar di tubuh Keith. Tubuhnya segera menjadi obor. Peter tertawa terbahak-bahak melihatnya, namun ia tak menduga bahwa Keith mengerahkan segala kekuatan terakhirnya untuk menerjang tubuh Peter.
“Tidak! Menjauh dariku! TIDAAAAAAK!!!!” Peter berteriak kesakitan ketika api di tubuh Keith menyambar tubuhnya dan mulai menjalarinya.
“TIDAAAAAAAK!!!! TESSA, TOLONG AKU!”
Namun Tessa hanya terpaku di sana. Pasti ini semua di luar rencananya, pikir Liu.
Pemuda itu segera memanfaatkannya dengan menjegal Tessa dengan kakinya.
Tessa segera terjatuh di lantai dan Liu tak membuang-buang waktu dengan segera bangun secepat mungkin. Ia menahan rasa sakitnya dan melakukan apa yang harus ia lakukan.
Liu tak pernah memukul wanita sebelumnya dan ia selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk takkan pernah memukul seorang wanita.
Namun yang ini adalah sebuah pengecualian.
“DASAR WANITA JALANG!!!”
Liu segera menghajar Tessa dengan satu pukulan. Terdengar suara keras ketika kepalanya menghantam lantai dengan kuat.
Gadis itupun langsung tak sadarkan diri. Darah mengalir keluar dari lubang hidungnya dan sudut bibirnya.
Liu segera berusaha melepaskan ikatan Marisol, sementara gadis itu terus menjerit ketika melihat tubuh kekasihnya dimakan oleh api. Liu kemudian segera berlari untuk mencari tabung pemadam kebakaran. Setelah menemukannya, ia segera menarik pin-nya dan segera menyemprotkannya ke tubuh dua orang yang terbakar api itu.
Liu hanya bisa tertunduk lesu begitu menyadari mereka berdua tak selamat.
“Tidaaaak ... tidaaaaak ...” tangis Marisol.
Liu memeluk gadis itu, mencoba menenangkannya.
“Maafkan aku, Marisol ... maafkan aku ....”
Dari kejauhan terdengar suara sirine polisi semakin mendekat.
“Akhirnya ....” bisik Liu, “ ... semua sudah berakhir sekarang.”
 
EPILOG
Malam itu, Liu bermimpi aneh. Ia memimpikan masa kecilnya bersama Jeff. Ia teringat dengan 3 pengalaman yang mereka lalui bersama saat mereka masih kecil.
Liu ingat rumah lama mereka sebelum mereka pindah ke New Davenport.
Waktu kecil, ia melihat kakakknya, Jeff, dilempari batu dan kerikil oleh anak2 seusia mereka. Kakaknya saat itu tengah membungkuk di atas sesuatu. Liu berhasil mengusir mereka dan terkejut melihat seekor kucing berlumuran darah.
Jeff pasti sedang melindungi kucing itu.
Liu juga bermimpi ketika Jeff membangunkannya tengah malam.
“Kakak, ada apa?”
“Liu, aku mengompol.”
Liu melihat kasur Jeff basah. Padahal umur Jeff lebih tua setahun dan Liu saat itu sudah tak pernah mengompol lagi. Jeff terlihat sangat malu. Liu kemudian menyuruh Jeff tidur di ranjangnya dan Liu menggantikannya tidur di ranjang Jeff.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jeff.
“Biar ayah dan ibu mengira aku yang mengompol. Tenang kak, aku masih kecil. Mereka takkan memarahi aku.”
Dan mereka berdua tertawa bersama-sama malam itu.
Keesokan harinya, ia melihat Jeff di halaman belakang saat orang tua mereka tak ada. Jeff sedang membakar sesuatu.
“Apa yang Kakak lakukan?” tanya Liu kecil.
“Membakar sepraiku.” bisik Jeff.
“Kenapa?”
“Supaya ayah dan ibu tak tahu soal tadi malam.”
Liu tersenyum, kini ganti kakaknya yang melindunginya.
“Bagaimana jika ayah dan ibu mencari seprai ini?”
“Bilang saja ada maling jemuran mengambilnya.”
Mereka berdua tertawa.
Tawa yang sungguh berbeda dengan tawanya saat ia membunuh orang2.
Kemudian Liu terbangun. Cahaya pagi menyinari wajahnya.
Entah apa maksud semua mimpi ini. Ia tak tahu.
Mungkin ia merindukan Jeff yang dulu.
***
Liu menatap lautan lepas di Devil’s Rock. Di tebing yang membunuh kakaknya.
“Kau tidak datang di upacara tadi pagi?” sang kepala polisi berjalan mendekatinya, “Sudah kuduga kau pasti ada di sini. Padahal tadi kami akan memberikanmu medali dan gelar warga kehormatan karena telah menyelamatkan nyawa Marisol Gonzalez.”
“Pahlawan yang sebenarnya adalah Keith, Sir.” balas Liu, “Aku tidak pantas menerimanya. Bagaimana kondisi Marisol?”
“Jangan cemaskan dia. Ia adalah gadis yang tegar.”
“Lalu,” Liu masih menatap ombak yang bergulung2 dan senja yang semakin memerah, “Tessa? Bagaimana dengannya?”
“Ada yang aneh dengan kasus ini.”
“Ada apa?” Liu akhirnya menoleh ke arah kepala polisi itu.
“Tessa mengaku tak pernah merencanakan membunuh Mr. Gardnier. Dan senjata pembunuhan yang mereka miliki pun tak cocok dengan luka di jenazah Mr. Gardnier. Di pisau mereka juga tak ada jejak2 darah kepala sekolah, well, maksudku mediang kepala sekolah.”
“Tapi aku melihatnya keluar dari lemari saat itu ...”
“Mungkin ia menemukan mayatnya lalu melihatmu masuk dan segera bersembunyi di lemari. Entahlah, hanya pembunuhan kepala sekolah yang tak cocok dengan semua bukti dan kesaksian mereka.”
“Lalu siapa pelakunya?”
“Kalau kami harus menyusuri dengan menginterogasi orang2 yang punya motif untuk membunuh Mr. Gardnier, itu berarti kami harus menanyai seluruh penduduk kota ini.”
Liu tertawa.
“Jangan khawatirkan kasus ini. Kami akan memecahkannya. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku memutuskan menjual rumah itu dan pergi sejauh mungkin dari sini.” Suara debur ombak sesekali meredam percakapan mereka.
“Kau tahu,” kata sang kepala polisi, “Ini semua bukan salahmu. Jeff sendiri yang memilih jalan itu. Kau takkan mungkin bisa menghentikan, walaupun kau adiknya. Kau harus tahu itu.”
Liu menatapnya dengan wajah berkaca-kaca. Selama ini, hanya dia yang mengerti perasaannya. “Saya hanya ... saya hanya tak habis pikir ... bagaimana Jeff yang saya kenal, Jeff yang selalu melindungi saya ... bisa berubah seperti itu.
“Kau pernah dengar ‘Macdonald Triad’, Liu?”
“Apa itu?” Liu tampak tertarik.
“Itu adalah sebuah teori psikologi tentang perilaku pembunuh berantai saat kanak2. Hampir semua pembunuh berantai menunjukkan perilaku2 khusus ketika mereka masih kecil. Perilaku itu ada tiga: membunuh hewan2 kecil, masih sering mengompol pada usia di atas 5 tahun, serta gemar menyulut api dan membakar benda2. Anak yang memiliki ketiga perilaku ini saat masih kecil kemungkinan besar akan tumbuh menjadi psikopat.”
Liu terhenyak.
Kucing itu. Kucing yang ia lihat bersama Jeff dalam kondisi berdarah.
Apa Jeff yang melakukannya? Dan anak2 itu melemparinya batu karena melihat Jeff menyiksa binatang?
Kebiasaan Jeff mengompol dan ....
Seprai yang terbakar itu.
Astaga.
Apa memang Jeff ditakdirkan menjadi ...
“Tentu tak ada satupun manusia yang ditakdirkan menjadi jahat, Liu. Kau harus mengerti.” Kepala polisi itu seakan bisa membaca pikiran Liu. “Itu sepenuhnya pilihan mereka. Namun kadangkala, ada satu kejadian ... satu peristiwa yang membuat mereka tak tahan lagi dan akhirnya meledak ... dimana kesabaran mereka akhirnya habis dan mereka membiarkan diri mereka dikonsumsi oleh keinginan jahat.”
Kepala polisi itu menatap mata Liu.
“Jeff sendiri yang memilihnya. Itu bukan kesalahanmu.”
Liu terdiam. Ia akhirnya mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih atas segala perhatian yang kepala polisi itu berikan kepadanya sejak ia kecil.
Mereka berdua berpisah dan menuju ke jalan mereka masing2 ketika secara bersamaan mereka saling memanggil.
“Pak?”
“Nak?”
Mereka berdua tertawa.
“Anda dulu.” kata Liu.
“Jeff The Killer sudah mati.” kata pria tua itu, “Hiduplah dengan tenang sekarang!”
“Saya juga mau mengatakan hal yang sama,” Liu tersenyum, “Jeff The Killer sudah mati. Sekarang kita bisa tidur dengan tenang.” 

*** 

Tessa tak mengerti mengapa ia harus memakai jaket putih dengan pengikat ini. Ia tak bsa menggerakkan tangannya. Bahkan ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia merasa tubuhnya juga sudah diikat ke jeruji kasur ini.
Padahal ia hanya berpura-pura gila untuk mendapat belas kasihan hakim dan menghindari hukuman mati. Aktingnya sukses dan ia dikirim ke rumah sakit jiwa ini.
Namun ada yang aneh dengan tempat ini.
Setiap malam ketika ia melihat ke arah jendela kamarnya, ia selalu bisa melihat sebuah wajah.
Wajah putih dengan senyum menyeringai.
Wajah Jeff The Killer.
Ketika ia menceritakannya kepada para perawat dan dokter, mereka hanya menganggapnya sebagai suatu gejala kegilaan. Mereka terus memberikannya obat yang tak pernah mau ia minum. Hingga para suster meminumkannya dengan paksa.
Namun Tessa masih bisa melihat wajah itu di luar jendela walaupun ia sudah meminum obat.
Apakah dia benar2 sudah gila?
Hujan turun dengan deras di luar. Kilat menyambar-nyambar. Rasanya ada badai di luar sana.
Baguslah, pikir Tessa di atas ranjang. Jika hujan, wajah itu takkan muncul. Bahkan Jeff The Killer-pun takkan mau berdiri di tengah hujan hanya untuk mengawasinya.
Namun suara petir di luar tak bisa membuatnya tidur. “Seharusnya aku tadi meminta obat tidur.” keluh Tessa dalam hati.
Gadis itu hanya menutup matanya tanpa benar2 bisa tidur.
Tiba2 ia mendengar suara pintu dibuka dan langkah kaki menuju ke ranjangnya.
Tessa berpikir, siapa yang datang ke kamarnya malam2 begini.
Ia membuka matanya dan jantungnya nyaris copot.
Di depannya berdiri Jeff The Killer dengan seringai khasnya. Ia mendekatnya jarinya ke bibirnya yang selalu tersenyum sambil berkata,
Sssssst .... tidurlah, gadis manis ... “ katanya sambil mengacungkan pisau tepat di atas dadanya, “ ... tidurlah untuk selamanya ... ”
 
THE END


NEXT
Previous